Kolose 1:13-14; Matius 6:11-12

Reformational Worldview Chapel • 26 November 2006

Pengampunan

    Pengampunan merupakan tema penting dalam kehidupan manusia. Beragama ataupun tidak, manusia sadar pentingnya pengampunan. Sebab manusia hidup bersama dengan manusia lainnya. Membangun hubungan dengan sesama bagaimanapun perlu pengampunan. Kesalah- pengertian mudah mengganggu hubungan apalagi adanya konflik kepentingan. Tanpa pengampunan kita tidak dapat memiliki hubungan yang baik dengan sesama manusia. Namun meskipun penting, tampaklah sering kali pengampunan diletakkan dalam kepentingan hubungan antar manusia.  Akhirnya sering kali pula pengampunan menjadi komoditas demi membangun kepentingan bersama. 

    Alkitab berkepentingan menguraikan soal pengampunan. Bukan sekedar untuk menjaga hubungan antar manusia. Oleh karena masalah pengampunan bukan sekedar masalah hubungan antar manusia. Ada masalah yang lebih mendasar bagi manusia sehingga kita memerlukan pengampunan. 

    Untuk itu kita perlu memahami terlebih dahulu kabar baik pengampunan yang disampaikan Tuhan Yesus di bukit dalam pengajaran-Nya akan Doa Bapa kami: “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami…” (Matius 6:11-12). “Give us this day our daily bread. And forgive us our debts, as we also have forgiven our debtors.”     

    Dalam khotbah di bukit, Tuhan Yesus menegaskan tiga hal yang pokok bagi kehidupan kita, yaitu makanan, pengampunan, dan pencobaan. Ketiganya berbeda urusan namun ketiganya sama pentingnya dalam kehidupan kita bukan saja berkaitan dengan kehidupan di dunia tetapi terutama dalam kaitan dengan Kerajaan Surga. Sejak awal doa ini, Tuhan Yesus menegaskan keterkaitan antara Surga dan bumi. Keduanya dipadukan dalam kehendak Bapa yang “jadilah di bumi seperti di Surga.” 

    Bagaimana ketiganya menjelaskan satu dengan lainnya dalam konteks hidup kita sebagai anak-anak TUHAN di dunia ini? 

    Baik soal makanan, pengampunan dan pencobaan menunjuk pada satu kepentingan utama hidup kita, yaitu apakah hidup kita “fit in” (berpadu, selaras, sejalan atau integrasi) dengan Kerajaan Surga. Untuk itu makanan dikaitkan dengan “secukup-nya” (epiousion). Kata epiousion merupakan paduan dari epi dan ousia yang menujukkan suatu paduan yang selaras dengan esensi (ousia). Kata ini menunjukkan bahwa kita memerlukan makanan yang selaras, sejalan, berpadu dan terintegrasi dengan keseluruhan kehidupan kita sehingga “fit in” dengan Kerajaan surga. Sederhananya apakah keperluan kita akan “makanan” selaras dengan hidup dalam Kerajaan Surga?  

    Demikian pula halnya dengan pengampunan dikaitkan dengan hutang. Hutang yang dibenam-kan menjadi “sampah” dalam kehidupan kita, menjadikan hidup kita tidak “fit in” dengan Kerajaan Surga. Selanjutnya pencobaan, dikaitkan dengan “And lead us not into temptation, but deliver us from the evil one.” Oleh karena pencobaan akan membawa hidup kita tidak lagi “fit in” dengan kelimpahan hidup dalam Kerajaan Surga. 

    Paulus dalam surat Kolose 1:14 menegaskan kembali pengajaran Tuhan Yesus. Pengampunan adalah pengampunan dosa yang dikaitkan dengan pengalaman kita dibebaskan dari ke-rajaan kegelapan ke kerajaan terang. Pengampun-an dipahami sebagai permulaan baru untuk hidup selaras dan integrasi dengan kerajaan Anak Allah, Tuhan kita Yesus Kristus. 

    Adakah kisah hidup kita selaras dan sejalan dengan kisah kerajaan Surga? Adakah “makanan” justru menjadi sumber kepedihan hidup kita? Adakah “hutang-hutang” kesalahan diri sendiri maupun orang lain menjadi sumbatan kita me-ngalami hidup yang selaras dengan kelimpahan anugerah TUHAN? Adakah pencobaan telah memperangkap hidup kita tanpa daya dalam kegelapan? 

    Pengampunan dosa merupakan “new beginning” bagi kita di dalam anugerah-Nya. Datanglah kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah menjadi penebusan bagi pengampunan kita.

 ~ Pdt. Joshua Lie