Kolose 1:15-19

Reformational Worldview Chapel • 3 Desember 2006 

15a He is the image of God.

     15b The firstborn of the entire creation,

         16a for in him all things were created.

                 17 He is before all things, and in Him all things hold
                       together.           

            18b He is the Beginning,

    18c the firstborn of the dead,

 19 for God desired to dwell in him with his entire fullness.

 

    Langkah yang terpenting dalam kehidupan kita adalah ketika tiba pada pengakuan iman sejati di dalam TUHAN Yesus Kristus. Oleh anugerah-Nya kita beroleh kesadaran dan kekuatan untuk mengaku percaya sesuai dengan kebenaran firman-Nya.

   Langkah berikut tidak kurang pentingnya adalah bagaimana implikasi pengakuan iman dalam kehidupan kita selama di dunia ini. Bagaimana implikasi pengakuan iman sebagaimana diuraikan oleh rasul Paulus dalam Kolose 1:15-19?

     Bagian ini membentuk suatu chiasm yang kli­maksnya pada ayat 17. Apa maknanya bagi kita? Setiap orang berusaha hidup dalam suatu keutuhan kisahnya. Suatu kisah yang dapat dirangkaikan, dapat dikisahkan kembali, ataupun dapat dijelaskan alurnya. Kesadaran ini ada karena memang manusia diciptakan dalam gambar Penciptanya. Namun demiki­an dalam kenyataan kehidupan, tampaknya tidak semudah itu. Rangkaian dapat terputus, alur dapat bergelombang kian kemari, kisah kehidupan kita akhirnya direduksikan dalam satu atau dua peristiwa saja.

   Keadaan demikian bukan saja menyatakan keterbatasan kita namun sekaligus me­nyatakan ketiadaan kita akan integrasi ke­hidupan. Siapakah yang mampu dan me­mampukan kita hidup dalam kepenuhan  ...  dan kelimpahannya? Hidup adalah karunia TUHAN. Sejauh mana kita sudah memahami dan menyelami kelimpahan kehidupan itu?

    Dalam pengakuan iman akan Kristus, Paulus menyatakan suatu dasar pokok bagi kehidu­pan kita: “in Him all things hold together.” Di dalam Kristus, segala sesuatu beroleh kepenuhannya, segala sesuatu berpadu dalam kelimpahannya.

     Kehidupan manusia di dalam dunia ini dimulai dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Inilah rentang kisah ke­hidupan manusia. Keragaman kehidupan dan pemikiran mewarnai kisah kehidupan manusia. Namun keragaman ini dipandang sebagai perbedaan dan perselisihan bahkan konflik antar manusia. Ketika diperhadap­kan dengan kerumitan dan perselisihan, kita mencari jalan keluar melalui reduksi. Kisah reduksi adalah kisah pemenang yang mam­pu menguasai seluruh keragaman disempit­kan dalam satu pengalaman ataupun satu kekuatan. Si pemenang mungkin adalah trauma kehidupan masa lalu. Mungkin pula satu kerangka pemikiran yang membeleng­gu. Dosa telah membuat kisah kehidupan kita berada dalam bayangan reduksi yang menciutkan kehidupan kita.

     Pengakuan iman di dalam Kristus memberikan kita jalan integrasi. Integrasi menghargai ke-ragaman tanpa jatuh ke dalam kerumitan dan kesempitan (reduksi). Integrasi menempatkan keragaman dalam fokus Sang Pencipta.

     Maka tampak jelas bahwa integrasi pertama-tama bukanlah usaha manusia pada dirinya sendiri. Kita yang telah dikuasai oleh dosa tidaklah mungkin lepas dari kerumitan dan reduksi. Saatnya kita perlu kembali kepada pengakuan iman kita di dalam Kristus. Dialah gambar Allah yang sempurna itu. Dialah yang sulung dari semua ciptaan dan yang sulung bangkit dari antara orang mati. Fokusnya adalah di dalam Dialah segala ses­uatu ditopang dan berpadu dalam segala ke­limpahannya.

     Kita yang mengaku percaya kepada Kristus, kita akan dihantar dalam kelimpahan selu­ruh ciptaan tanpa ditaklukkan olehnya. Saa­tnya kita mengasihi Kristus dan menikmati Dia sepenuhnya dalam kebenaran-Nya.

 

Pdt. Joshua Lie