1 Petrus 1:3-5

Reformational Worldview Chapel - Minggu, 18 Nopember 2007

Home

Sounding 

Condition for True Hope

"Blessed be the God and Father of our LORD Jesus Christ, who according to His abundant mercy has begotten us again to a living hope through the resurrection of Jesus Christ from the dead..."

Setiap manusia yang hidup memerlukan pengharapan. Kita dengan segera menyetujui ucapan ini. Bukankah segala usaha manusia didasarkan pada suatu pengharapan? Ketika kita bangun tidur, kita beroleh kekuatan melanjutkan kehidupan karena masih adanya pengharapan. Namun benarkah kita sudah memiliki "hidup yang penuh pengharapan" (living hope) itu ataukah sekedar hidup yang berharap?

Hubungan antara hidup dan pengharapan tidak dapat dipisahkan dari bentuk kehidupan itu sendiri. Bagi orang Yahudi masa itu yang berusaha membangun komunitas mereka sendiri sebagai umat pilihan, suatu komunitas yang kuat dan mandiri, tema pengharapan kurang berarti. Sebaliknya bagi manusia modern yang individualistik, pengharapan menjadi daya tarik yang besar. Itu sebabnya manusia modern selalu berusaha membangun utopia hari depan sebagaimana dinyatakan dalam imagine-nya John Lennon.

Adakah kita berharap atau sudah tinggal di dalam living hope? Rasul Petrus menegaskan bahwa kehidupan dan pengharapan bukanlah dua hal yang menyatu. Kehidupan yang penuh pengharapan bukan suatu kondisi yang dapat dibuat oleh manusia. Tuhan-lah yang mengerjakan itu bagi kita. Ia "melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan."

Itu sebabnya meskipun kita adalah "pendatang yang tersebar" (ayat 1-2), hidup orang Kristen bukan hidup yang tanpa pengharapan, bukan juga hidup yang berharap, tetapi hidup yang penuh pengharapan (living hope). Kita tidak dapat berharap kepada para pemimpin kita, kepada suami atupun istri kita, anak-anak kita namun kepada Tuhan, Penebus kita yang mengarunikan kepada kita, para suami dan istri kita, anak-anak kita, suatu hidup yang penuh pengharapan. Dengan dasar inilah kita boleh menyaksikan kasih karunia Tuhan di dalam hidup kita.

Hiduplah dalam hidup yang dikarunia Kristus, hidup yang penuh pengharapan.

Blessings in Christ.
~ Pdt. Joshua Lie