PANGGILAN EULOGIA DAN APOLOGIA

DALAM KONTEKS KERYGMA GEREJA


Retreat Majelis dan Hamba Tuhan Sinode GKY, 6-7 Maret 2008

 Home 

 Sounding



(Bahan artikel ini merupakan hasil transkrip dari materi audio seminar yang disampaikan oleh Pdt. Joshua Lie pada Retreat Majelis dan Hamba Tuhan Sinode GKY, di hotel Seruni, Cisarua, tanggal 6-7 Maret 2008.)

 

PENDAHULUAN

Saya sudah mengenal Gereja Kristus Yesus (dulu GKJMB) sejak usia remaja karena tertarik akan berita yang disampaikannya. Pada hari ini kita bersama-sama rindu melihat GKY dapat menjadi gereja yang memberi arah dan pimpinan dalam transisi zaman modern dan pascamodern yang begitu dashyat ini. Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya mengajak pembaca untuk memikirkan kembali tentang keunikan yang dimiliki oleh GKY sebagai gereja yang dipanggil Tuhan ke dalam dunia ini.

 

PANGGILAN GEREJA UNTUK MENJADI BERKAT (EULOGIA)

“Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.” (1 Pet. 3:8-9)

Rasul Petrus menjelaskan bahwa umat Tuhan dipanggil untuk menjadi berkat. Dalam bahasa aslinya, kata “menjadi berkat” berasal dari kata “eulogia” yang terdiri dari kata eu (good) dan logia (speech). Maka, secara sederhana pengertiannya adalah perkataan yang baik dan membangun orang lain. Ketika Petrus menjelaskan makna kata ini, maka langkah yang paling dasar adalah apakah perkataan kita adalah perkataan yang baik, membangun dan menyatukan sama lain. Dalam konteks perdebatan dunia modern dan pascamodern, kita dapat melihat pergumulan gereja untuk berada dalam panggilannya ini. Bagi konteks orang modern, kekuatan mereka adalah kekuatan di dalam perkataan.  Dunia modern sangat mementingkan perkataan, maka tidak heran kita melihat acara-acara talkshow sangat populer karena menggunakan dan mempermainkan kata-kata. Dengan mengagungkan logos (perkataan atau pengetahuan), dunia modern mengembangkan dirinya menjadi monologos, yaitu menekankan suara sendiri. Berkata-kata sendiri tanpa perlu persekutuan dengan yang lainnya, asal berdasarkan logika. Di tengah-tengah keramaian dan kebisingan suara manusia, muncul satu suara yang kuat, suara seorang pemenang, pemikir, penguasa. Inilah ciri pemimpin dunia modern, yaitu monologos. Para tokoh inilah yang diagungkan oleh dunia modern sebagai suara-suara yang bersifat tunggal. Mereka menjadi satu suara yang sanggup memberikan pimpinan dan arah yang luar biasa. Tetapi akibatnya, menimbulkan individualisme dan tidak memberikan ruang bagi peranan komunitas. Ini adalah tantangan bagi kehidupan gereja dalam menggumulkan panggilan untuk menjadi berkat. Pertanyaannya, apakah gereja harus mengikuti dunia modern menjadi monologos?

 Gereja mempunyai satu ciri utama, yaitu perkataan (firman Tuhan) yang harus disampaikan.  Tantangan berikutnya adalah dunia pascamodern. Mereka membuka jalan bagi segala suara. Misalkan, dahulu di dalam keluarga, suara seorang ayah menjadi seorang monologos dalam keluarga. Ketika ia berbicara, tidak ada yang berani membantah, dan tidak ada komunikasi. Tetapi sekarang, semua orang dalam rumah berani bersuara. Namun masing-masing tidak ada kaitannya, sehingga menjadi anti-logos.  Karena perkembangan teknologi, dunia kita sekarang bersifat web, yaitu jaringan. Jaringan seolah-olah menyatakan adanya hubungan namun sebenarnya tidak. Dunia kita dipenuhi dengan begitu banyaknya informasi. Namun terlalu banyaknya informasi mengakibatkan tidak ada makna yang dalam dan kaitannya satu dengan yang lain.   Misalkan, koran memberikan banyak headlines dengan berita yang tidak ada kaitannya. Fenomena ini membuat pembaca merasa sudah tahu banyak tapi sebenarnya dangkal. Bagaimana gereja dapat menjawab tantangan ini?

Tanpa eulogia, persekutuan akan menjadi semu. Masing-masing berbicara sendiri. Atau semua berbicara namun tanpa hubungan dan persekutuan. Masing-masing merasa berhak bersuara tapi terjebak dalam monologos atau anti-logos. Hal ini selanjutnya mempengaruhi pembentukan konsep spiritualitas: apakah monologos, web, atau eulogia? Hidup dalam jaringan sebenarnya meniadakan kerangka (frame). Kerangka atau frame sangat mempengaruhi dan menentukan gambar di tengahnya. Dunia modern berhasil membangun kerangka tapi hanya untuk orang-orang tertentu yang memiliki status, kekayaan, dsb. Dalam dunia pascamodern, kerangka tidak lagi dibutuhkan dan semakin tidak ada batas. Bagaimana caranya menghasilkan eulogia jika demikian?

Pertama, perkataan kita dalam gereja harus merupakan ucapan perkataan yang baik dan membangun. Seorang anak autis hidup dengan suara dan dunianya sendiri. Survey menunjukkan semakin banyaknya anak autis yang lahir di Amerika pada abad ke-21 ini.  Secara filosofis, anak autis disebabkan karena dunia yang semakin monologos. Hidup dengan suara dan dunianya sendiri. Jikalau seorang anak autis dapat dibawa keluar dari dunianya, maka dia bisa tumbuh sebagai orang yang luar biasa menjadi berkat. Namun, langkah paling dasar ini pun tidak mudah dilakukan. Ketika kita saling bertemu, kita perlu mempersiapkan kata-kata yang baik. Menyampaikan perkataan yang baik, kita perlu membangun hasrat (desire) yang sesuai dengan kebenaran Tuhan. Karena berbicara berkaitan dengan hasrat manusia (human desire). Bapa gereja Agustinus menjelaskan ketika seorang manusia mulai belajar berkata-kata, manusia menyatakan hasratnya. Bahasa berkaitan langsung dengan hasrat mansuaia. Ketika tidak ada hasrat atau karena kelelahan fisik, kita menjadi malas berbicara. Sehingga, alasan itu yang membuat banyak hubungan menjadi rusak. 

 Kedua, dalam 1 Petrus 3:8, Petrus menasihatkan supaya jemaat memiliki hasrat untuk menerapkan kasih persaudaraan. Seia sekata, sebagai adalah dasar kekuatan untuk membangun eulogia. Ia mengaitkan perkataan yang baik dengan keinginan yang baik. Itulah sebabnya, seorang sales marketing dilatih untuk membangun hasrat yang besar dengan kekuatan bahasa (power of language) ketika memperkenalkan produknya. Disinilah perkataan yang baik bukan sekadar menjadi karakter, tetapi sebagai kuasa dalam membangun eulogia. 

Ketiga, hasrat yang baik didorong dan timbul dari kuasa penebusan Kristus. Hasrat yang baik dibangun ketika kita dapat ”membalas kejahatan dengan kebaikan.” Disinilah kita memahami penebusan Kristus, dengan menyatakan hidup kita sebagai agen perubahan dalam dunia ini. Seorang filsuf Inggris, Thomas Reid menjelaskan hal ini dengan ilustrasi benda berupa seng (Zn) yang akan dimasukan ke dalam larutan asam. Seng itu langsung diubah dan dilarutkan dalam asam. Asam itu punya kekuatan yang besar untuk merubah. Namun, asam hanya punya kuasa untuk merubah, tapi tidak punya kuasa untuk tidak merubah (power without freedom). Itulah sebabnya tokoh-tokoh besar (mis. Hitler, Lenin, Musolini, dsb.) punya bakat yang besar dalam dunia menjadi agen perubahan, tetapi tidak punya kebebasan.  Disinilah gereja harus berfungsi sebagai agen perubahan yang punya kebebasan untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Sejarah gereja membuktikan gereja mula-mula yang mengalami penganiayaan dapat terus bertahan hingga pada saat ini. Konsep kematian (martir) justru menjadi suatu kekuatan ketika mereka dijebloskan ke dalam arena pada zaman kaisar Nero lebih memilih tidak melawan, namun berdoa dan bernyanyi dalam nama Tuhan. Bagi Nero, tontonan yang menarik baginya adalah  ketika mereka melawan. Tetapi, para martir itu justru menjadi agen perubahan ketika mereka lebih memilih menderita karena berbuat baik melawan kejahatan (1 Petrus 3:17). Konsep orang Roma pada zaman Nero yang menganggap kematian menjadi suatu kemuliaan dan kuasa kemenangan mengalami perubahan.

 Di tengah dunia yang suaranya tidak jelas, maka gereja dipanggil berperan sebagai agen perubahan dalam dunia ini. Manusia diciptakan bukan hanya sebagai omnivorous, tetapi sebagai verbivorous, yaitu hidup dengan perkataan yang baik (sincere). Gereja harus siap memikirkan ulang struktur gereja yang dapat menampung jemaatnya yang dapat bersuara dan semuanya melayani. Di tengah zaman yang semakin banyak suara monologos atau yang bersifat jaringan (web), maka panggilan gereja adalah untuk menggembalakan suara-suara yang ada di dalamnya.

 Ketika Alkitab menjelaskan bahwa Yesus adalah Nabi, Imam, dan Raja, maka sebenarnya gereja mempunyai panggilan yang bersifat kingly. Ciri seorang raja dalam kisah raja-raja Perjanjian Lama di Alkitab, adalah pentahbisan (coronation) dan konsultasi (consultation). Pentahbisan berguna dan dapat diterima jika suara raja didengar oleh rakyat, sehingga raja harus bisa menjaga suaranya tetap didengar oleh rakyat. Jika tidak, maka raja itu harus segera turun karena sudah tidak lagi didengar rakyatnya. Kemudian, seorang raja harus mengelola suara yang masuk kepadanya karena ia sendiri butuh suara (verbivorus). Akan tetapi, suara yang mana yang harus diterima? Dalam hal ini seorang raja harus berkonsultasi dengan suara nabi yang benar (firman Tuhan).  Gereja harus selalu siap mendengar dan terus menerus berkonsultasi dengan firman Tuhan, sehingga gereja bisa berfungsi sebagai agen perubahan.  Interupsi pada panggilan sebagai kingly hanyalah ketika seorang raja sakit atau mati (dying), karena ia tidak mau turun sekalipun suaranya tidak lagi didengar. Kiranya gereja harus mengerti akan panggilannya ini agar suaranya tetap didengar dalam dunia yang semakin tidak jelas ini. Jangan sampai gereja menjadi sakit dan koma tanpa berita firman Tuhan bagi dunia ini. 


 
PANGGILAN GEREJA UNTUK MEMBERI  JAWABAN (APOLOGIA)

”Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.” (1 Pet. 3:15)

Panggilan Gereja yang kedua adalah apologia, yang berarti memberi pertanggungan jawab.  Ketika memahami kehidupan bergereja, ada dua lingkaran yang perlu diperhatikan. Lingkaran ke dalam, adalah membangun perkataan yang baik (eulogia) dengan kesehatian dalam gereja. Perkataan yang baik dibangun dari keinginan yang baik untuk menggembalakan suara-suara dalam gereja supaya menjadi gema dari kebenaran firman Tuhan.  Lingkaran ke luar adalah memberi jawaban kepada pertanyaan-pertanyaan di luar gereja (apologia). Sehingga kesehatian timbul ketika gereja menghadapi tantangan dari luar. Itulah sebabnya, gereja dipanggil dan diutus ke dalam dunia sehingga kehadirannya terus menerus bersinggungan dengan dunia. Manakah yang lebih besar, gereja atau dunia? Dunia sebagai alam semesta adalah ciptaan Tuhan, dan gereja adalah anak-anak Tuhan. Pada waktu gereja ke luar, gereja perlu memberi jawaban kepada pertanyaan-pertanyaan dunia.

 Dalam sejarah, manusia selalu mempunyai banyak pertanyaan. Seorang yang bertanya adalah seorang yang berpikir. Apa arti berpikir? Artinya ia bertanya, to think is to ask. Ketika dikaitkan dengan perkataan Petrus untuk bersiap sedia dalam memberi pertanggung jawaban, tugas gereja adalah untuk menggembalakan suara-suara dalam dunia. Suara-suara itu penuh dengan pertanyaan. Seorang filsuf menganggap orang Kristen tidak bisa berpikir dan tidak punya logika, karena tidak berani bertanya dan memberi jawaban pada hal-hal yang di luar wilayahnya. Pertanyaannya, apakah seorang kristen bisa berpikir?

 Gereja harus berani bertanya dan berpikir sehingga bisa dapat menggembalakan suara-suara di luar gereja, bukan hanya di dalam. Ketika Petrus menasihatkan gereja untuk selalu siap sedia memberi jawaban. Gambaran yang dipakai adalah konteks di pengadilan. Petrus menghubungkan perkataan Yesus dalam Injil Lukas 17.  Ketika kita dibawa ke pengadilan, jangan takut karena Roh Kudus akan memberi jawaban. Dalam pengadilan, semua fakta-fakta dan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akan dicari kebenarannya. Berangkat dari konteks tersebut, maka tugas untuk memberi jawab atas pertanyaan dunia masa kini bukan dalam konteks pengadilan tetapi kepada kepada setiap orang (anybody) dan dalam kehidupan sehari-hari (every day). Kita teringat pengalaman Petrus ketika diperhadapkan dengan pertanyaan dan tuduhan sebagai pengikut Yesus. Ia tidak siap dan menyangkal Yesus. Peristiwa ini tidak terjadi di pengadilan tetapi dalam kehidupan kesehariannya. Gereja sekarang ditantang untuk memberi jawaban kepada dunia luar, lembaga-lembaga, struktur-struktur, dan sebagainya.

Pada zaman modern, dunia menantang gereja dari luar (from without), misalnya dari universitas berbicara tentang darwinisme. Pada waktu itu, gereja masih bisa bertahan karena masih punya batas wilayah sendiri. Namun, pada zaman pascamodern  dunia menantang gereja dari dalam (from within) dengan memakai tema-tema milik gereja yang diperbincangkan di luar. Mereka membahas tema-tema milik gereja seperti pengampunan, gift, visi, misi dst. Mereka membicarakan semuanya tanpa Kristus.

Saat ini di Amerika khususnya sedang berkembang di dunia Barat yaitu emerging church dengan tokohnya Brian Mcclaren, sebagai gambaran dari gereja pascamodern. Mereka adalah orang-orang yang sadar akan keadaan di luar. Maka, sekelompok anak-anak muda Kristen di Inggris berpikir kalau orang Kristen hanya menjadi rohani di dalam gereja, tidak mungkin gereja dapat bertahan.  Mereka bergumul membawa spiritualitas dan transendensi ke luar gereja. Masa kini dapat disebut sebagai zaman gereja (the age of ecclesiology). Konsep gereja mengalami perubahan. Gereja bisa hadir dimana-mana, seperti di café, office. dan sebagainya. Gerakan ini menunjukkan kerohanian bisa dibawa kemana saja sehingga tidak heran jika pengkotbah-pengkotbahnya berpakaian sangat casual ketika membawakan firman Tuhan. Karena itu gereja hari ini perlu bersehati, aktif dalam berapologia karena zaman pascamodern memberikan kesempatan paling luas karena semua orang bersedia mendengar segala sesuatu. Pada hari ini masalahnya hanya soal selera, like or dislike, bukan tentang apa yang benar. Masalahnya, apakah gereja bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut? Bagaimana apologia ini dapat dilakukan?

Pertama, dengan berbagian dalam perbuatan baik (1 Pet. 3:13). Gereja harus percaya akan kekuatan yang baik (the power of goodness). Persoalannya sekarang bahwa bahasa kita sudah mengaburkan tentang keyakinan kita atas kebaikan. Ketika baik (good) tidak lagi cukup, maka ada kata lebih baik (better) atau yang terbaik (the best). Alkitab mengatakan Allah itu baik, bukan better or best. Jika kita melihat perkembangan film pada zaman modern, bahwa kebaikan selalu akan menjadi menang atas kejahatan. Namun pata tokohnya digambarakan tidak perlu memiliki moral yang baik. Film pascamodern menantang pola modern. Film pascamodern selalu diakhiri dengan tidak jelas, unending story. Tidak ada kebaikan yang mampu meniadakan kejahatan. Kejahatan akan selalu muncul kembali. Tantangan ini perlu dijawab gereja, bahwa ada kuasa dalam perbuatan baik dengan menjadi partisipan dalam kesaksiannya. Firman Tuhan dapat menyatakan, jika kita berbuat baik, siapa yang akan berbuat jahat kepada kita.

Kedua, dengan mempunyai kesiapan untuk menderita dan menanggung sesuatu yang seharusnya tidak kita tanggung seperti Kristus.  Petrus menghubungkan kebenaran ini dengan hal pengudusan Kristus dalam hati kita. Petrus berbicara tentang konsep keimaman dari gereja (priestly) yang harus menguduskan dirinya. Surat 1 Petrus 3:13-14 menjelaskan bahwa konsep kesediaan gereja untuk menderita adalah bukan sebagai korban (victim), melainkan sebagai persembahan (offering). Konteksnya adalah untuk menegaskan keimamatan orang percaya yang menderita sebagai suatu persembahan yang berkenan kepada Allah. Panggilan keimamatan (priestly) dinyatakan dalam aksi gereja sebagai kesaksian perbuatan baik dan panggilan penderitaan sebagai persembahan. Interupsi untuk seorang imam adalah ketika ia menjadi pasif dalam memberikan apologia. Contohnya Imam Eli yang tidak berani menegur dosa dari anak-anaknya, sehingga akibatnya generasi keimaman dari Eli menjadi hilang. Ketika gereja menjadi tidak dapat bersuara (pasif) dan tidak bisa menjalankan fungsi imam ini, maka gereja akan kehilangan generasi anak-anak muda di masa depan. Generasi anak-anak muda pada masa kini perlu panduan dan arahan (guidance), ketika mereka lebih mengutamakan panggilan handphone (Phone’s calling) daripada panggilan suara Tuhan (God’s calling). Seperti halnya orang tua harus memakai wibawanya sebagai orang tua untuk tetap berbicara tegas kepada anaknya, dan ketika seorang anak menyadari tetap membutuhkan suara orangtuanya, maka nilai-nilai kebenaran milik gereja itu dapat tetap dipertahankan. Imam harus siap sedia menegakkan kebenaran Tuhan dalam umat Tuhan. Gereja harus bermisi ke dalam dan ke luar gereja itu sendiri dengan menggembalakan suara-suara yang didengarnya. Dunia pascamodern justru memberikan tantangan bahwa gereja harus menjadi ladang misi dari gereja itu sendiri. Imam harus selalu aktif dan siap sedia untuk berbuat baik dan juga siap menderita, karena itu adalah persembahan atas kasih karunia yang diberikan Tuhan.

 

KARAKTER KERYGMATIK GEREJA

Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan -- maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah -- oleh kebangkitan Yesus Kristus, yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya.” (1 Pet. 3:18-22)

Tema memberitakan (kerygma) menjadi sesuatu yang penting bagi gereja masa kini. Panggilan gereja tidak hanya ber-eulogia dan ber-apologia saja, melainkan mempunyai berita yang perlu disampaikan. Berita itu bukan hanya suatu suara yang bisa saya dengar atau tidak saya dengar. Perspektif suara bukan hanya sekadar bersuara (sounding) atau tidak bersuara (silent), tetapi di tengah-tengah kebisingan (noise) dunia, gereja tetap bisa menyuarakan kepentingan beritanya. Oleh karena itu, setiap orang percaya mempunyai karakter kerygmatik dalam dirinya. Rasul Petrus mengaitkan pemberitaan (kerygma) ini dengan Kristus yang memberitakan kepada roh-roh dalam penjara,[1] yaitu pada zaman Nuh (the days of Noah) yang tidak siap mendengar berita tersebut.

Injil Lukas pasal 17 memberikan penjelasan tentang kehidupan manusia zaman Nuh yangi  sibuk dengan hidupnya sendiri dan tidak peduli akan perkataan firman Tuhan. Seperti Nuh seorang diri, ia berteriak di tengah berisiknya zaman itu untuk menyuarakan sabda Tuhan. Pada waktu itu orang-orang hanya hidup dalam kedagingannya (body, flesh), yaitu hanya berkenaan dengan makanan dan seks, sehingga mereka menutup telinga terhadap berita yang disampaikan Nuh pada orang sezamannya. Pada waktu menyampaikan berita tersebut, tantangannya gereja berhadapan dengan pergulatan hidup dan tubuh manusia (desire). Kedua kebutuhan di atas harus diselesaikan di hadapan Tuhan, karena tubuh tidak hanya berurusan dengan kebutuhan tersebut, melainkan kebutuhannya untuk mendengarkan firman Tuhan. Disinilah panggilan gereja berkaitan dengan peran kenabian (prophetic). Bagaimana caranya berita tersebut dapat disampaikan dengan titik berangkat dari kebutuhan manusia akan kebenaran Tuhan?

Pertama, memakai tubuh untuk misi yang diberikan Tuhan. Pada kasus Kain dan Habel tentang persembahan yang diterima Allah (Kej. 4:2), Habel berperan sebagai nabi, sementara Kain hanyalah seorang manusia yang bergumul dari tanah (a tiller of the ground) bukan sekadar petani. Kain berangkat dari pergumulan akan tubuhnya, dan ia memikirkan persembahan bagi Tuhan dari bawah dengan mencari jawaban ke atas. Alasan inilah yang menjadi dasar mengapa Tuhan tidak berkenan atas persembahannya. Paulus mengatakan bahwa tubuh itu halal (lawful) karena tubuh manusia itu ciptaan Tuhan (1 Kor. 6:12). Masalah yang lebih mendasar daripada soal makanan dan kebutuhan seks adalah apakah tubuh kita menggenapi misi Tuhan. Tubuh punya misi bukan hanya untuk bergumul dengan dosa tetapi sebagai alat untuk menjalankan kehendak Tuhan. Dunia menarik secara ekstrim untuk menjadikan tubuh sebagai pemuas dari gaya hidup hedonisme atau sebaliknya dengan menarik diri sebagai tindakan asketisme. Paulus mengatakan sekalipun semuanya halal, tetapi tidak semuanya berguna sekalipun halal. Kata ”berguna” berasal dari kata sumpero, yang berarti be with, be together, be one. Kata ini menjelaskan akan suatu ikatan kovenan dari tubuh yang harus dipakai untuk persekutuan. Oleh karena itu, Paulus menjelaskan bahwa seks tidak bisa dipisahkan dari ikatan pernikahan yang di dalamnya menyatukan tubuh manusia. Di dalam dunia yang memakai tubuh, ada tugas kerygma yang harus diberitakan melalui tubuh untuk melayani Tuhan. Ketika tubuh dipisahkan dari suatu persekutuan, maka tidak ada lagi kerygma yang dapat dikerjakan. Kita harus menghindarkan suara atau perkataan yang dapat membuat kita tidak dapat lagi bersekutu dengan sesama manusia.

Kedua, kebenaran berita kerygma yang harus didengar oleh dunia. Dalam 1 Petrus 3:1 digambarkan keadaan di dalam roh yang terdapat dalam penjara. Berita kerygma gereja yang sudah digenapi oleh Yesus Kristus mempunyai kuasa untuk menyampaikan kebenarannya hingga ke dunia roh. Petrus menggambarkan keadaan orang-orang yang sudah mendengar tapi menolak untuk menerima berita yang benar pada akhirnya mati dengan puas. Mereka perlu menyadari bahwa berita yang mereka tolak itu adalah kebenaran. Berita yang gereja sampaikan adalah dari Allah semesta alam yang harus diterima oleh semua orang. Kebanyakan para filsuf dari Eropa adalah orang-orang yang tidak peduli akan Tuhan, namun mereka sungguh-sungguh meneliti Alkitab. Apakah gereja sudah sungguh-sungguh memberikan kerygma yang benar kepada dunia, bukan hanya asal manis kedengarannya (eulogia) atau membela diri (apologia).  Gereja mempunyai berita kebenaran yang tidak bisa tidak untuk disampaikan kepada dunia.

Ketiga, gereja harus berperan dalam suara kenabian dalam menyampaikan kerygma. Tugas kerygma gereja berkaitan dengan tugas seorang nabi yang menyampaikan firman Tuhan. Seorang nabi bertugas untuk menggembalakan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan ini dengan cara menafsirkannya. Misalnya, ketika nabi-nabi Perjanjian Lama harus menafsirkan peristiwa pembuangan dan penjajahan Babel atas Israel, suara nabi sangat penting untuk didengarkan supaya Israel kembali kepada Tuhan. Masalahnya sekarang, dimanakah suara kenabian gereja pada hari ini? Dalam konteks ini, gereja harus menggali kekayaan kebenaran (kerygma) Tuhan untuk diberitakan kepada dunia. Gereja hari ini lebih mementingkan untuk membahas persoalan dibandingkan kebenaran firman Tuhan. Persoalan dapat menjadi seperti sekrup yang bisa mengikat dan membelenggu gereja. Namun, ketika kebenaran semakin dipikirkan akan semakin memerdekakan kita.

Interupsi terhadap tugas kenabian adalah kepalsuan (counterfeit) dari suara kebenaran itu sendiri. Itulah sebabnya nabi palsu begitu banyak dalam kisah Alkitab karena pendengarnya lebih mencari suara yang lebih ingin mereka dengar daripada kebenaran Tuhan. Dunia pascamodern sangat terbuka atas suara-suara kepalsuan, karena kebenaran itu menjadi relatif satu dengan yang lainnya. Tuhan Yesus berkata, “Akulah pokok anggur yang benar” (Yoh. 15:1).  Kata “benar” disini memakai kata alethinos yang menunjuk kepada kebenaran yang paling sejati.  Hanya ada satu kebenaran yang sejati dalam dunia, yaitu berita tentang kebenaran Allah dalam Yesus Kristus. Kiranya gereja GKY terus dapat menjalankan tugas kerygma ini dalam panggilannya, sehingga kebenaran berita itu dapat didengar dan diterima oleh dunia.

--  Pdt. Joshua Lie



[1]Dalam bahasa aslinya, tidak ada kata injil (euangelion) yang dipakai dalam ayat ke-19. Oleh karena itu, teks tersebut tidak bisa dipakai sebagai dasar untuk teologi penginjilan kepada orang-orang yang sudah mati.