1 Petrus 1:13-25

Reformational Worldview Chapel • 20 Desember 2007

Home 

Sounding 

Christian Action?

Awal tahun merupakan saat yang baik untuk memulai suatu 'action plan.'  Kalaupun tidak sempat, tidak berarti kita tidak akan memenuhi tahun 2008 ini dengan tindakan-tindakan kita. Dunia semakin tampak dipenuhi dengan berbagai tindakan manusia. Semakin lama, tindakan manusia semakin tampak tidak berbeda. Apakah tindakan kita sebagai orang Kristen berbeda dengan yang lainnya?

Ketika kita menyatakan suatu perbedaan tidak berarti melulu menunjuk suatu superioritas dalam pencapaian. Perbedaan bisa menunjuk pada suatu keunikan. Inilah yang perlu kita amati dalam tindakan kita sebagai orang percaya.

Rasul Petrus meletakkan tindakan Kristen dalam rangkaian keimamatan orang percaya (priesthood of believers). Suatu seruan yang dikumandangkan kembali pada masa Reformasi abad ke-16. Kini, seruan yang sama perlu dikumandangkan lagi dalam bayangan senja dunia modern. Bagaimanakah hubungan tindakan Kristen dengan keimamatan orang percaya?

 

13Gird yourselves for action, therefore, in your mind, and with full attention set your hope on the grace to be brought to you when Jesus Christ is revealed. 

Tindakan Kristen dimulai dengan persiapan kita sendiri. Gambarannya adalah seorang yang menggulung lengan bajunya, dan mengikat pinggangnya untuk bertindak. Inilah gambaran tindakan imamat yang rajani. Bukan gambaran raja yang bertindak. Tindakan raja adalah tindakan strategis dengan terlebih dulu mengamati situasinya bahkan persiapan situasinya. Tindakan imamat yang rajani adalah kesiapan sediaan diri untuk bertindak dengan benar. Inilah "servant leadership" yang sebenarnya.

 

17And if you invoke as Father the One who judges impartially according to each person’s work, then wherever you are, spend your allotted time there in reverent fear. 

Tindakan Kristen sebagai wujud keimamatan yang rajani dilakukan di hadapan Bapa. Suatu kehormatan bagi kita melakukan sesuatu di hadapan-Nya. Namun Petrus menegaskan Ia adalah Bapa, "yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya." Bukankah suatu keistimewaan kita dapat melakukan sesuatu di hadapan Bapa kita? Benar, namun demikian, tidak berarti tindakan kita dipandang Bapa dengan memandang muka. Sebagai orang percaya, kita adalah anak-anak-Nya. Namun tidak berarti tindakan kita boleh sembrono. Tidak berarti seorang hamba Tuhan boleh bertindak sembarangan, sesuai dengan maunya sendiri. Dia akan menghakimi kita tanpa memandang muka. Oleh karena tindakan kita adalah tindakan imamat yang rajani, yaitu dalam panggilan "Kuduslah kamu sebab AKU kudus" (ayat 16).

 

22Now that you have purified your souls for pure brotherly affection by obedience to the truth, love one another unremittingly from the heart, 23you have been born anew, not from the planting of perishable seed but from imperishable, through the word of the living and enduring God. 

Ketika kita bertindak sebagai imamat yang rajani. Kita dipanggil untuk bertindak dalam "purified your soul" dan "born anew." Keduanya berakar pada keselamatan yang kita terima di dalam Yesus Kristus. Keduanya juga menunjuk pada ciri tindakan kita. Jiwa kita telah disucikan. Suatu proses telah selesai. Kini jiwa dipenuhi dengan kelegaan sebagaimana dinyatakan dalam Yeremia 6:16 (LXX) "dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan." Bergema dalam perkataan Tuhan Yesus (Matius 11:29). Kelegaan bukanlah kelegaan karena telah selesai tugas. Kelegaan yang telah diberikan justru kelegaan untuk kita bertindak. 

Demikian pula dengan kelahiran baru dengan benih yang tidak fana. Kita telah menjadi anak-anak Allah. Selanjutnya "kelahiran" menjadi ciri tindakan kita sebagai imamat yang rajani. Tindakan kita adalah tindakan bidan yang menghantar pada kehidupan. Sekaligus menyatakan adanya pergumulan ketika kita bertindak. Tindakan selalu ada resikonya. Namun resikonya bukanlah resiko menuju kepada kebinasaan melainkan kepada kehidupan. Sama seperti seorang perempuan yang akan melahirkan anaknya. Kesakitannya bukanlah kesakitan yang berujung pada kematian, melainkan kepada kehidupan.   

Tindakan imamat yang rajani adalah tindakan yang membawa pada kehidupan bukan kebinasaan. Tindakan yang tidak luput dari kesukaran dan pergumulan, namun bukan dalam kesakitan (pain) melainkan dalam sakit bersalin (birth-pangs) yang memunculkan kehidupan (bandingkan Galatia 4:19 "Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.")

Mari kita mengisi tahun 2008 dengan tindakan kita. Tindakan imamat yang rajani. Itulah keunikan panggilan kita untuk bertindak.

Blessings in Christ,

Pdt. Joshua Lie